Lentera di Tepi Sungai - Cerita bahasa inggris untuk level intermediate
Halo sobat Manyan, kali ini kita akan melangkah ke cerita bahasa inggris selanjutnya. Cerita ini merupakan karangan cerita yang saya usung guna untuk mempertajam pemahaman kita terkait bahasa inggris diantaranya : Vocabulary, Tenses, dsb. Untuk itu mari kita pelajari alur ceritanya dan juga menganalisa kosa kata baru / tenses yang dapat kita pelajari.
The Lantern by the River
It was a chilly evening in the small town of Riverside when Emma walked home from the library. The wind was blowing softly, carrying the scent of pine and rain. Emma had been studying for her final exams all week, and her mind was filled with formulas,essays, and deadlines. She had always dreamed of becoming a winter, but at that moment, it felt impossible. “Maybe I'll never make it,” she sighed as she crossed the bridge. Then, something caught her eye - a small lantern was floating on the dark river, glowing with a golden light.
Malam itu dingin di kota kecil Riverside ketika Emma berjalan pulang dari perpustakaan. Angin bertiup pelan, membawa aroma pinus dan hujan. Emma telah belajar sepanjang minggu untuk ujian akhirnya, dan kepalanya dipenuhi rumus, esai, serta tenggat waktu. Ia selalu bermimpi menjadi seorang penulis, tetapi saat itu, semuanya terasa mustahil. “Mungkin aku tidak akan pernah berhasil,” keluhnya saat ia menyeberangi jembatan. Lalu, sesuatu menarik perhatiannya — sebuah lentera mengapung di sungai yang gelap, bersinar dengan cahaya keemasan.
Curious, she leaned closer, trying to see where it had come from. The lantern seemed to move toward her, as if it was alive. Without thinking, she reached out her hand - and suddenly, everything around her changed. The bridge was gone, the library had disappeared, and she found herself standing beside the same river, but in another time. The air smelled of fresh earth, and wooden houses stood where tall buildings used to be. A man in simple clothes was fishing nearby. “Good evening, miss,” he said kindly. “Are you lost?”
Karena penasaran, ia mendekat, mencoba melihat dari mana lentera itu berasal. Lentera itu tampak bergerak mendekatinya, seolah-olah hidup. Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangan — dan tiba-tiba, segala sesuatu di sekelilingnya berubah. Jembatan itu hilang, perpustakaan menghilang, dan ia mendapati dirinya berdiri di tepi sungai yang sama, tetapi di masa yang berbeda. Udara beraroma tanah basah, dan rumah-rumah kayu berdiri di tempat gedung-gedung tinggi berada sebelumnya. Seorang pria dengan pakaian sederhana sedang memancing di dekatnya. “Selamat malam, nona,” katanya ramah. “Apakah Anda tersesat?”
Emma nodded, too shocked to speak. She had read many fantasy books, but she never believed she would actually travel through time. “I - I think so,” she stammered. “What year is this?” The man smiled. “It's 1895.” “You must have hit your head,” he said. “No one travels through time except in dreams.” Emma looked around, trying to stay calm. Maybe, she thought, this was all just a dream - but the cold wind and the sound of the river felt too real to be imagination.
Emma mengangguk, terlalu kaget untuk berbicara. Ia telah membaca banyak buku fantasi, tetapi ia tidak pernah percaya bahwa ia benar-benar akan melakukan perjalanan waktu. “A—aku pikir begitu,” jawabnya terbata-bata. “Tahun berapa ini?” Pria itu tersenyum. “Ini tahun 1895.” Jantungnya berdegup cepat. “1895? Itu lebih dari seratus tahun yang lalu!” Pria itu tertawa. “Anda pasti terbentur kepala,” katanya. “Tidak ada yang bisa melakukan perjalanan waktu kecuali dalam mimpi.” Emma melihat ke sekitar, berusaha tetap tenang. Mungkin, pikirnya, ini semua hanya mimpi — tetapi angin dingin dan suara sungai terasa terlalu nyata.
Over the next few days, Emma stayed in a small guesthouse run by an elderly woman named Mrs. Cooper. She helped with chores during the day and listened to people's stories at night. The town was small but full of warmth. Everyone was kind, and nobody looked at their phones - because they didn't exist yet. Emma had been missing her world at first, but she slowly started to enjoy the peace of this simpler life. One evening, said, “Then write one, dear. Sometimes, the best stories are waiting inside us - we just have to let them out.”
Selama beberapa hari berikutnya, Emma tinggal di sebuah rumah tamu kecil milik seorang wanita tua bernama Nyonya Cooper. Ia membantu pekerjaan rumah di siang hari dan mendengarkan cerita-cerita penduduk di malam hari. Kota itu kecil tetapi penuh kehangatan. Semua orang ramah, dan tidak ada seorang pun yang menatap ponsel mereka — karena ponsel belum ada. Awalnya Emma merindukan dunianya, tetapi lama-lama ia mulai menikmati kedamaian hidup sederhana itu. Suatu malam, ia menceritakan kepada Nyonya Cooper tentang mimpinya menjadi penulis. Wanita tua itu tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, tulislah. Terkadang, cerita terbaik sudah menunggu di dalam hati kita — kita hanya perlu membiarkannya keluar.”
That night, Emma sat by the window with a candle and began to write on an old notebook. The words came easily - stories about courage,friendship, and hope. For the first time, she felt free. When she woke up the next morning, she noticed that the same golden lantern was glowing outside her window again. She touched it gently, whispering, “Thank you.” The air spun around her, and suddenly, she was back on the bridge in her own time. The sun was rising,painting the river gold. Everything looked the same, yet she felt completely different.
Malam itu, Emma duduk di dekat jendela ditemani cahaya lilin dan mulai menulis di buku catatan tua. Kata-kata mengalir begitu saja — cerita tentang keberanian, persahabatan, dan harapan. Untuk pertama kalinya, ia merasa bebas. Ketika ia bangun keesokan paginya, ia melihat lentera keemasan yang sama bersinar di luar jendelanya. Ia menyentuh lentera itu perlahan seraya berbisik, “Terima kasih.” Udara berputar di sekelilingnya, dan tiba-tiba, ia kembali ke atas jembatan di masanya sendiri. Matahari terbit, membuat sungai berkilau emas. Semuanya terlihat sama, tetapi ia merasa dirinya sepenuhnya berbeda.
Back home, Emma opened her laptop and started writing again. The stories she had written in the past still lived in her heart. She has become more confident, more alive. Her first short story was published in a local magazine a few months later. She has been writing every day-since then, inspired by the lantern she once saw by the river. “I will never stop,” she thought. “Next yeaer, I will publish my first book. And by then, I will have been working toward my dream for more than a year.”
Sesampainya di rumah, Emma membuka laptopnya dan mulai menulis lagi. Cerita-cerita yang telah ia tulis di masa lalu itu masih hidup dalam hatinya. Ia telah menjadi lebih percaya diri, lebih bersemangat. Cerita pendek pertamanya dipublikasikan di majalah lokal beberapa bulan kemudian. Sejak itu, ia terus menulis setiap hari, terinspirasi oleh lentera yang pernah ia lihat di tepi sungai. “Aku tidak akan berhenti,” pikirnya. “Tahun depan, aku akan menerbitkan bukuku yang pertama. Dan saat itu tiba, aku akan telah bekerja menuju mimpiku selama lebih dari satu tahun."
As she looked out the window, the evening was falling once more. The river outside was shining, and for just a moment, she saw something bright drifting on the water. It was another lantern - or maybe the same one. returning to remind her that time is not only moving forward; sometimes, it circles back to those who believe. And Emma knew that her story had only just begun.
Saat ia menatap keluar jendela, senja mulai turun lagi. Sungai di luar berkilau, dan sesaat, ia melihat sesuatu yang terang mengapung di air. Itu adalah sebuah lentera lain — atau mungkin lentera yang sama, kembali untuk mengingatkannya bahwa waktu tidak hanya bergerak maju; kadang-kadang, waktu berputar kembali kepada mereka yang percaya. Dan Emma tahu bahwa kisahnya baru saja dimulai.
Tenses :
- Simple Present : Time is not only moving forward.
- Present Continuous : The wind is blowing slowly.
- Present Perfect : She has become more confident.
- Present Perfect Continuous : She has been writing everyday since than.
- Simple Past : Emma walked home from the library.
- Past Continuous : The lantern was floating on the dark river.
- Past Perfect : She had always dreamed of becoming a water.
- Past Perfect Continuous : She had been studying for her final exams all week.
- Simple Future : Next year, she will publish her first book.
- Future Continuous : By next month, she will be writing her next story
- Future Perfect : She will have been working toward her dream for more than a year.
- Future Perfect Continuous Tense : She will have been writing every day for years